Rabu, 22 September 2010

chairil anwar dan saya

HAMPA

kepada sri

Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.

Membaca puisi Chairil Anwar itu. Gue jadi iri. Bagaimana seorang bisa menyatu padukan kata-kata hingga menjadi kalimat yang indah.dan menghadiahkan kepada orang yang indah pula.

Dulu gue pernah mendapat beberapa surat. Temen gue bilang itu surat cinta yang ditulis buat gue. Dan di surat itu tertulis kekaguman nya pada gue. Dan gue iri sama dia. Bisa membuat puisi bahkan syair yang indah dan mendedikasikan nya ke gue.

Gue mencoba membuat puisi kecil yang akan gue hadiahin pada orang yang gue sayang

kayak gini bunyi nya :

Untuk dia yang hati nya tersipu malu

Meski ku uraikan dengan jutaan kata indah

Tak kuasa ku goreskan di selembar kertas putih dan amplop biru bergambar hati

Untuk menjabarkan betapa rindunya aku

Agar kita bisa selalu berharap

Untuk sebuah pertemuan,suatu masa nanti


Untuk dia yang hati nya tersipu malu

Demi bintang yang tertegun karena kau tatap

Demi bulan yang terbata-bata karena kau tangkap


Untuk dia yang hatinya tersipu malu

Ambil lah jantung ini

Agar kau bisa menghitung…

seberapa sering jantung ini berdetak

Sesering itulah ku rindukan mu..

Jeellleeekk!!! Hhahah. Jelek banget puisi dadakan yang gue bikin secara spontan ini

Tapi lumayankan buat pemula kayak gue. Hihiii…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar